Posted: November 30th, 2012 | No Comments »
Air Flow Technique adalah sebuah teknik yang dikembangkan oleh Dr. Martin F. Schwartz untuk mengatasi gagap. Dr. Martin adalah seorang yang mempercayai bahwa gagap bersumber dari “block” . “Block” menurut Dr. martin adalah suatu keadaan yang mana udara terhambat pada tenggorokan, yang mana juga akan menghentikan aliran suara. Menurut Dr. Martin Sumber Gagap adalah “block”, bukan pengulangan kata (spt: ti,ti,ti,dak), ataupun kebiasaan penderita gagap yang lain (spt: menutup mata, mengentakan kaki, dsb), yang menurutnya adalah kebiasaan yang mengikuti akibat utama dari “block” itu sendiri.
Air Flow Technique adalah teknik yang cukup sederhana, yang dengan beberapa kali latihan akan dapat dengan mudah dilakukan. Teknik ini akan bekerja dengan sangat baik apabila dilakukan bersama dengan seorang partner, dengan cara berbincang-bincang mengenai topik tertentu dengan tak lupa selalu menggunakan teknik ini pada permulaan kata atau kalimat.
Pelaksanaan Air Flow Technique
Anda mungkin pernah atau sering merelaxkan diri dengan cara menarik napas panjang kemudian menghembuskan nafas keluar melalui mulut sambil mengucapkan kata “ahhhhhhhhhhh”, bagaimana perasaan anda setelah melakukan itu? tentu saja anda menjadi lebih relaks. Jika anda perhatikan dengan seksama otot-otot pada leher anda menjadi lebih santai (lemas) pada saat melakukan hal ini maka anda sudah melakukannya dengan benar. Inilah dasar dari teknik yang diciptakan Dr.Martin yaitu Air flow Technique.
Pertama-tama lakukanlah beberapa kali cara bernafas relax di atas, ambil nafas dalam-dalam dan hembuskan dari mulut sambil berkata “ahhhhhhhhhhh” lakukanlah ini beberapa kali sampai anda dapat mengecilkan suara “ahhhhhhhhhhh” anda sekecil mungkin (sampai hanya terdengar seperti hembusan nafas “hhhhhhh”). Anda perlu membiasakan hal ini terlebih dahulu karena tidak mungkin anda mengawali kata atau kalimat anda dengan kata “ahhhhhhhhhhh” yang keras.
Setelah anda terbiasa dengan cara bernafas ini, anda dapat melanjutkan ke bagian selanjutnya yaitu mengucapkan sebuah kata (cth: “bagaimana”) pada saat anda menghembuskan nafas dari mulut, misalnya : “hhhhbagaimana” , hal yang paling penting adalah kata yang anda ucapkan harus selalu mengikuti hembusan “hhhh” dan tidak terputus sama sekali dalam satu kali hembusan nafas. Harap dicatat dan selalu diingat. Berikut Praktek Step By Step nya :
- Tarik nafas
- Hembuskan nafas melewati mulut sambil mengucapkan “hhhhh”
- Segera sisipkan suatu kata yang hendak anda ucapkan misalnya “hhhhhbagaimana”
Latihlah beberapa kali sampai anda terbiasa kemudian melangkahlah lebih jauh dengan mengucapkan sebuah kalimat dalam satu hembusan nafas, misalnya “hhhhbagaimana kita melakukannya?”
Setelah anda terbiasa dengan langkah kedua, mulailah berbicara dalam sebuah topik dengan keluarga atau teman dekat anda dengan selalu menggunakan teknik ini. Ingatlah tidak ada suatu keberhasilan tanpa usaha yang keras.
Posted: November 29th, 2012 | No Comments »
“Saya tidak percaya takdir. Saya percaya kita bukan dilahirkan untuk menjadi sesuatu yang telah ditentukan oleh garis nasib, dan tanpa daya ditarik oleh bintang-bintang ke arah tertentu, kemudian mendatangkan kebahagiaan bagi sebagian orang dan kemalangan bagi yang lain.” Paragraf ini ditulis oleh senator Amerika Serikat yang merupakan calon presiden AS tahun 2008 bersama dengan Obama. Apakah anda sependapat? anda yang menderita penyakit bawaan seperti gagap, atau penyakit lainnya, anda bisa saja menjawab “Ya” atau “tidak” , sangat tergantung pada nilai-nilai yang anda percayai ataupun mood anda saat ini. Saya pribadi percaya kepada takdir dan juga percaya pada tekad dan kemauan yang mungkin dapat merubah suatu takdir. Untuk alasan inilah situs ini ada, yaitu sebagai wadah bagi kita untuk saling mendengarkan, berbagi, dan mendukung.
Kawan, ijinkan saya untuk bercerita mengenai pengalaman pribadi saya hidup dengan gagap (Live with Stuttering).
Sebagai seseorang yang gagap, saya percaya sudah merupakan takdir saya jika saya dilahirkan sebagai seorang yang gagap, mungkin Orang lain yang tidak pernah mengalami hal ini (gagap) menganggap ini adalah kebiasaan buruk yang dibentuk pada masa kanak-kanak, tetapi saya yakin gagap bukanlah kebiasaan, melainkan suatu penyakit atau kelainan pada bagian tertentu pada otak manusia yang mempengaruhi secara langsung proses berbicara seseorang. Saya percaya bahwa dengan upaya, determinasi, dan kepercayaan, sesuatu yang mustahil masih bisa diupayakan.
Hidup bersama dengan gagap selama hampir 20 tahun, saya saat ini telah berusia 27 tahun. Ada saat ketika saya duduk dan membalik-balikan halaman album foto semasa kanak-kanak, saya melihat foto-foto ketika saya berusia sekitar 4 tahun, di mana saya sedang berperan dalam sebuah drama natal, saya sedang memegang mic dan kelihatannya sedang memainkan peran saya. Saya hampir 100 persen percaya kalau saat itu saya bukanlah anak yang gagap, karena kalau benar saya gagap tidak mungkin guru saya memilih saya memainkan peran itu. Tetapi saya tidak dapat mengingatnya, bahkan orang tua saya pun tidak mengingatnya, tidak seorangpun dapat mengingat bagaimana saya pada waktu itu, gagap atau tidak. Kenyataannya saat ini, sebagai orang yang tumbuh dengan gagap, memori saya dipenuhi oleh pengalaman gagap itu sendiri. Kemarahan, keputusasaan, dan kehilangan jati diri, merupakan iblis yang selalu menyertai memori gagap ini.
Seperti kebanyakan orang gagap lainnya, hari baik dan buruk saya acap kali ditentukan oleh gagap saya, hari baik saya adalah ketika saya dapat berbicara lebih lancar pada hari itu, dan hari buruk saya adalah kebalikannya. Hidup saya dengan gagap kerap menjatuhkan saya, dan saya merasa beruntung saya masih “survive” sampai saat ini.
Walaupun saya gagap, saya merasa beruntung dilahirkan di dalam keluarga yang serba berkecukupan, sehingga memberikan saya peluang untuk bersekolah, berkuliah, dan mencoba berbagai terapi dan alat-alat yang telah ada untuk para penderita gagap. Saya mempunyai saudara laki-laki dengan seorang kakak perempuan. Ayah saya adalah seorang pengusaha, orang yang keras, dan tidak dekat dengan kami bertiga. Sedangkan Ibu saya yang merupakan ibu rumah tangga, benar-benar total dalam mencurahkan kasihnya dalam membesarkan kami bertiga, dan saya pribadi sangat dekat dengannya. Walaupun hubungan saya dan Ibu saya sangat dekat, beliau tidak pernah benar-benar mengerti dan memahami gagap saya ini, begitu pula dengan saudara-saudara saya, apalagi ayah saya. Seperti halnya di sekolah, tidak ada yang pernah menanggapi gagap saya ini dengan serius, respon yang diberikan hanyalah gurauan negatif yang tentu saja sangat mengganggu. Ibu saya tidak menganggap ini serius karena beliau percaya dengan bertambahnya usia saya maka gagap ini akan berangsur pergi, pendapat ini sama sekali tidak membantu saya, karena apa yang saya alami dengan gagap, lambat laun mulai membentuk kebiasaan-kebiasaan buruk lain. Kebiasaan seperti menghindari kata-kata yang dapat membuat gagap, dan menggantinya dengan kata lain, walaupun kadang artinya bertolak belakang. Berbagai kebiasaan untuk menutupi gagap dengan segala cara, berbohong, membentak, dan sebagainya terbentuk begitu saja. Semua kebiasaan buruk ini dibangun di atas rasa enggan dicap sebagai orang gagap.
Seperti halnya prajurit yang melakukan segala cara agar dapat selamat dari perang dan kembali ke rumah dengan selamat, saya pun rela melakukan apapun termasuk berbohong, untuk keluar dengan selamat dalam perjuangan mengucapkan sauatu kalimat.
Gagap adalah hal yang sangat sulit dipahami oleh orang normal, karena bagi orang normal berbicara adalah suatu spontanitas, tetapi bagi orang gagap berbicara adalah perjuangan yang memerlukan strategi dan aturan-aturan tertentu agar dapat mengeluarkan kata dengan selamat.
Aturan-aturan dan strategi berbicara saya peroleh dari berbagai kursus dan terapi yang telah saya ikuti. Aneh rasanya berbicara dengan strategi tertentu, mengatur napas, melakukan pemanjangan awal kata atau huruf hidup dalam kata, dan tentu saja, teknik-teknik ini dapat terlihat buruk apabila digunakan di dalam percakapan normal dengan orang bukan gagap. Lebih aneh lagi rasanya diajari untuk “tidak gagap” oleh orang-orang yang tidak pernah mengalami kesembuhan dari gagap, karena kenyataannya mereka bukanlah orang yang pernah gagap. Para pemberi terapi tidak tau sedikitpun tentang bagaimana dan apa yang dialami oleh orang gagap seperti saya pada saat berbicara. Semua sesi terapi yang saya jalani memberikan hasil yang tidak permanen. Ada kalanya terapi yang disertai dengan pemberian motivasi, bahkan hipnoterapi, dengan cepat membangkitkan kepercayaan diri saya , menyulap saya menjadi orang yang lancar dalam berbicara, tetapi dengan cepat pula, seperti halnya obat pereda rasa sakit yang berangsur-angsur reda khasiatnya, penyebab sebenarnya, penyakit yang belum diobati itu kembali muncul ke permukaan, gagap kembali muncul, dan seringkali akan menjadi lebih parah.
Semasa kecil, saya termasuk murid yang cerdas dan selalu meraih ranking tiga besar di kelas. Saya termasuk anak yang sangat percaya diri, dan gagap tidak pernah menjadi masalah besar buat saya pada saat itu, walaupun tetap ada hari-hari buruk karena mendapat ejekan dari teman, bahkan guru. Saya mempunyai lebih banyak teman daripada anak lainnya yang tidak gagap, saya menjadi favorit guru, dari semua itu saya merasa beruntung karena dilahirkan dengan hati yang berani. Kemudian, tibalah masa remaja saya yang berjalan tidak semulus masa kanak-kanak saya. Dengan bertambahnya umur saya, saya menjadi benar-benar sadar akan kekurangan saya ini. Kehidupan sosial anak remaja yang jelas-jelas berbeda dengan kehidupan sosial anak-anak, memberikan saya tekanan yang lebih besar untuk berusaha berbicara dengan lancar seperti teman-teman saya yang normal. Ejekan yang saya peroleh karena gagap saya, di dalam pergaulan dengan teman ataupun keluarga, memberikan efek psikologis yang lebih besar bagi saya dibanding waktu saya masih anak-anak. Saya ingat ketika beberapa kali diminta untuk membaca di dalam kelas, setiap kalinya tenggorokan saya serasa tercekik, suara terbata-bata, dan saya pasti terlihat sangat lucu, sehingga semua anak di kelas menertawakan saya. Tidak hanya malu dan sakit ketika kesulitan dalam membaca, ada kalanya misalnya guru saya sengaja melewatkan saya dalam urutan tugas membaca yang menjadikan saya seolah-olah satu-satunya anak di kelas yang tidak sanggup untuk membaca.
Bertahap bayang-bayang berbagai pengalaman buruk dengan gagap mulai menguasai pikiran saya, membebani kehidupan sosial saya, saya menjadi sangat sensitif, dan tidak mau dilihat sebagai orang gagap. Dari sini sifat-sifat manipulatif saya mulai terbentuk. Saya berusaha keras agar terlihat tidak gagap, dengan berbagai cara, seperti, berbicara dengan menghindari kata-kata yang “rawan”, memalingkan wajah ke arah di mana lawan bicara tidak dapat melihat mimik wajah sewaktu saya gagap, bahkan saya lebih memilih berbohong daripada mengucapkan suatu kata atau kalimat yang jujur dengan gagap. Cara-cara ini cukup berhasil, saya dapat menyembunyikan gagap saya dan saya dapat merasa lebih baik dalam kehidupan sosial saya.
Akan tetapi menyembunyikan sesuatu tidak selalu berhasil. Kenyataannya, teman-teman saya masih mengenal saya sebagai orang yang gagap, dan kejadian yang memalukan dan tidak terhindarkan karena gagap masih terus ada, menemani saya tumbuh dewasa. Saya sering merasa andai saja saya tidak gagap apapun bisa saya lakukan bahkan mungkin merubah dunia sekalipun
.
Seiring saya dewasa ada dorongan di hati saya untuk mencari jalan keluar terbaik untuk gagap saya, saya memilih menyelesaikan daripada terus berlari. Saya mulai menerima keadaan saya dan mencari berbagai alternatif pengobatan untuk gagap saya, saya membaca banyak buku, mempelajari banyak teknik berbicara, menggunakan alat pembantu bicara (speech fluency device), bahkan memakai obat – obatan. Banyak hal memuakkan yang saya jumpai ketika menjalani sesi – sesi terapi yang diberikan oleh orang-orang yang belum pernah mengalami gagap, bertingkah seakan-akan mereka mengetahui inti permasalahan gagap. Intinya saya tidak pernah merasa pakar-pakar itu benar-benar mengerti permasalahan gagap karena faktanya mereka tidak pernah mengalami hidup dengan gagap.
Bertahun-tahun pencarian dan penantian akan mujizat ditemukannya pil penghilang gagap sampai pada hari ini di mana saya saat ini adalah seorang pengusaha yang cukup berhasil. Saat ini walaupun saya belum bebas dari gagap tetapi saya sudah dapat hidup dengannya sambil terus mencari alternatif pengobatan yang terbaik.
Saya mendukung teman-teman yang mempunyai rasa lapar akan kesembuhan dari gagap yang sama seperti saya untuk menulis SURAT-SURAT Kalian , membagi pengalaman hidup dengan gagap (living with Stuttering). Tulislah SURAT anda dan kirimkan ke berbagi@gagapku.com, surat anda akan di tampilkan di situs ini. Mari kita berbagi.
Posted: February 8th, 2012 | No Comments »
Dear Friends,
Buat teman-teman yang telah mampir di situs ini, apakah anda merasa muak, frustrasi, atau mungkin sedih dengan keadaan gagap, anda harus tau bahwa anda tidak sendiri. Saya adalah salah satu diantara jutaan orang Indonesia yang mempunyai gagap, saya tidak mau mengatakan dengan ‘menderita gagap’ karena kita dapat memilih untuk ‘menderita’ atau enjoy saja (walaupun kadang sangat sulit) dengan gagap ini.
Anda mungkin saat ini sedang mencari jawaban atau solusi dari “gagap” sehingga anda sampai pada situs ini. Atau anda hanya sekedar untuk ingin mencari komunitas untuk dapat saling berbagi ide-ide dan pengetahuan untuk mengatasi gagap. Anda tidak salah karena untuk itulah saya membuat situs ini.
Siapapun anda yang mengunjungi situs ini, saya membutuhkan saran untuk bagaimana membangun situs ini agar berguna bagi kita semua. Mohon tinggalkan komentar anda ..Terima Kasih
Atau anda bisa mengirim email ke : berbagi@gagapku.com